Minggu, 01 Agustus 2010

Hanya Seorang Ibu

Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak menyayangi ibunya. Ibu adalah segala-galanya. Ibu adalah harta yang paling berharga bagi seorang anak, yang tak bisa diganti dengan apapun. Tak bisa dibeli dengan emas dan permata. Tak bisa dibayar dengan milyaran rupiah. Karena seorang ibu, kita hadir di dunia ini.

Begitu juga dengan diriku. Aku sangat menyayangi ibu. Begitu juga dengan ibu, ibu juga pasti menyayangi diriku. Ibu pasti selalu mendoakan dan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Seorang ibu rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan anaknya. Darah daging kita dari air susunya. Jiwa raga kita dari kasih sayangnya. Hanya seorang ibu yang bisa menyayangi kita tanpa ada batasnya. Hanya seorang ibu yang bisa merasakan kesusahan di saat anaknya juga merasa susah. Hanya seorang ibu yang bisa merasa bahagia di saat anaknya juga mendapatkan kebahagiaan

Tapi bagaimana jadinya jika ibu kita tidak pernah melakukan yang terbaik buat anaknya? Apakah kita harus membencinya?Apakah kita tidak menganggapnya sebagai ibu kita? Aku rasa kita tidak pantas untuk membencinya. Sebesar apapun kesalahan ibu kita, dia tetaplah ibu kita. Ibu yang melahirkan kita. Ibu yang mengandung kita selama sembilan bulan. Ibu yang rela mengorbankan nyawanya untuk kita. Ibu yang bersusah payah membesarkan kita. Tak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hati kita.

Semenjak aku melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi Negeri, aku terpaksa berpisah dari ibu. Aku sangat merasa kehilangan. Kehilangan kasih sayang ibu. Aku tidak bisa lagi melihat senyuman ibu. Tapi aku yakin ibu pasti merindukan aku dan selalu mendoakan yang terbaik untukku. Demi cita-cita aku terpaksa merelakan semuanya. Merelakan banyak waktu untuk ibuku.Tapi aku akan membalas semua itu ibu. Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu ibu.Aku ingin selalu membahagiakanmu ibu.

Ibuku bukanlah seorang yang terbuka. Beberapa tahun yang lalu sewaktu aku mulai berpisah dari ibu, aku sangat merindukan ibu. Ingin rasanya aku pulang untuk menemui ibu dan langsung memeluk ibu, tetapi karena studi aku terpaksa menunda semua itu, hingga waktu libur tiba. Aku hanya bisa melepas kerinduan melalui komunikasi di handphone. Beberapa bulan kemudian waktu liburan itu tiba. Aku cepat-cepat pulang. Aku ingin memeluk dan mencium ibu. Aku ingin ada disamping ibu selalu. Bercanda tawa bersama ibu. Melihat senyuman ibu. Tetapi semuanya terbalik dari dugaanku. Ibu bersikap biasa saja kepadaku. Aku cepat-cepat menepis pikiran negative dalam kepalaku. Aku yakin, ibu juga pasti sangat merindukanku. Ibu juga pasti ingin memeluk dan menciumku. Aku bisa merasakn dan melihat semua itu dari sorot mata ibu.

Begitulah ibu. Ibuku bukanlah seorang pribadi yang terbuka. Terkadang aku ingin memeluk dan mengecup kening ibu. Aku ingin mencurahkan rasa rinduku kepada ibu. Tetapi kenapa semua itu terasa kaku? Aku tidak bisa melakukannya. Hati nuraniku menangis dan menjerit-jerit . Ya Allah, kenapa aku tak bisa melakukan semua itu? Padahal aku ingin sekali melakukannya. Ya Allah beri aku kekuatan dan pertolongan, agar aku bisa melakukan semua ini. Amin..ya robbal alamin..

Walaupun begitu, ibu adalah orang yang terbaik dalam hidupku. Aku ingin selalu membuat ibu tersenyum. Aku ingin selalu membahagiakn ibu. Aku selalu berdoa dalam setiap shalatku agar aku bisa membahagiakan ibu .Itulah cita-citaku. Cita-cita yang paling utama dalam hidupku. Aku berharap Allah bisa mengijinkan aku untuk membahagiakn ibu. Ibu yang paling berjasa dalam hidupku. Ibu yang sudah bersusah payah membesarkan aku. Tanpa ibu, aku tak akan menjadi seperti ini. Aku sangat berterimakasih kepada mu ibu, karena ibu aku bisa menjadi anak yang shalehah. Menjadi anak yang berilmu. Aku harus bisa melakukan yang terbaik untuk mu ibu.

Aku selalu ingat pesan ibu. ”Nisa kau harus bisa menjadi anak yang shalehah, anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Kau harus punya ilmu, karena dengan ilmu hidup kita menjadi sangat berarti. Dengan ilmu, apa yang kau cita-citakan bisa tercapai. Ilmu itu sangat mahal harganya. Ibu tidak bisa meninggalkan harta yang banyak untukmu, karena ibu tidak mempunyai apa-apa. Ibu hanya bisa menyekolahkanmu.Kau pasti tau Nisa, ibu menyekolahkanmu dengan susah payah .Karena ibu yakin, dengan ilmu yang kau dapat, kau pasti bisa bahagia. Bahagia di dunia dan bahagia di akahirat.

Ibu juga selalu berpesan kepadaku agar aku selalu melaksanakan kewajibanku sebagai hamba Allah, karena hanya kepada Allah tempat kita mengadu. Allah maha segala-galanya. Allah mengetahui apa-apa yang kita perbuat. Disamping itu, kita juga harus berusaha. Dengan usaha insya Allah apa yang kita cita-citakan dapat tercapai.

Itulah harapan ibu kepadaku. Ibu tidak mau aku seperti ibu. Ibu juga tidak mau apa yang dirasakan ibu, aku juga ikut merasakannya. Kehidupan ini terlalu keras kata ibu. Ibu hanya tamatan SD. Sebenarnya semua Itu bukan kemauan ibu, tapi karena keadaan ekonomi makanya ibu menjadi seperti itu.

Aku sebagai seorang anak, sadar akan tanggung jawab dan kewajibanku. Aku tidak pernah membantah kata-kata ibu. Aku selalu menuruti kata-kata ibu, karena rhido Allah tergantung rhidho ibu. Jadi kalau ibu kita tidak rhido kepada anaknya, Allah juga tak akan pernah rhido kepada kita. Syurga juga ada di telapak kaki ibu. Aku ingin meraih syurga itu melalui ibu. Betapa mulianya menjadi seorang ibu. Ibu aku sangat menyayangimu. Aku akan melakukan terbaik untukmu. Doakan aku ibu, agar aku bisa meraih cita-citaku dan aku bisa membahagiakanmu, karena doa ibu selalu dikabulkan Allah Swt. Amin..ya robbal alamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar